Pahami Resiko Silica Gel dalam Kemasan Makanan

Siapa yang tidak mengenal silica gel? Bahan kimia ini berupa butiran-butiran kecil dalam bungkusan kertas/plastik, dan selalu disertakan dalam kemasan barang elektronik dan makanan untuk menghindarkan kelembapan. Hasilnya, produk elektronik tersebut tetap kering, dan makanan tidak mudah melempem selama kemasan belum dibuka.

Jika Anda perhatikan, terdapat tulisan peringatan "Do not eat" di setiap kantung pembungkus silica gel. Mungkin Anda bertanya, apakah silica gel berbahaya bagi tubuh? Mengapa produsen memberi label seperti itu? Kita akan membahasnya berikut ini.


Tentang Silica Gel

Meskipun dinamai ‘silica gel', bahan ini tidaklah lunak/lentur seperti halnya gel pada agar atau gelatin, karena silica gel memiliki permukaan yang keras dan padat. Meski demikian, keberadaan ribuan pori-pori kecil di permukaan silica gel menyebabkan bahan ini mudah menyerap uap air dalam udara. Sebab itu bahan ini luas digunakan sebagai absorban/penyerap untuk mengurangi kelembapan saat penyimpanan. Anda banyak menjumpai silica gel dalam kemasan makanan instan atau obat-obatan, jajanan anak-anak, di dalam boks kamera untuk mencegah jamur, di dalam boks produk elektronik untuk mencegah uap air berkontak dengan komponen listriknya, dan sebagainya.

Silikon Dioksida dan Silica Gel

Silica gel termasuk dalam golongan senyawa silika, atau disebut juga silikon dioksida (rumus kimia : SiO2) SiO2 adalah senyawa yang terbentuk dari atom sikon (Si) dan oksigen (O), yang bisa terbentuk secara alamiah (contoh: mineral kwarsa) atau diproduksi manusia (contoh : serbuk silika atau dalam bentuk silica gel).

Senyawa-senyawa silikon dioksida bervariasi dalam struktur kristal antar atomnya (membentuk kristal atau non kristal/amorf), ukuran butiran partikel (berukuran nano/mikro/makro) dan ukuran pori-pori (berukuran nano/meso/makro). Silica gel adalah silikon dioksida yang amorf (struktur atomnya tidak membentuk kristal), berwarna bening seperti kaca, memiliki butiran berukuran makro berwujud granul, dan berpori dengan ukuran < 5 nm (1 nm (manometer) = 10-9 m =- 1/1.000.000.000 m)

Kemampuan silica gel dalam menyerap molekul uap air di udara bukanlah tak terbatas. Pada kondisi telah jenuh, daya serap pori-pori silica gel terhadap uap air tidak lagi berfungsi dengan baik, sehingga harus dilakukan regenerasi untuk memulihkan. Regenerasi terhadap pori-pori silica gel bisa dilakukan dengan mudah, yaitu dengan memanaskan silica ge/tersebut di dalam oven pada suhu 110°C (di atas suhu titik didih air). Pemanasan pada suhu ini mengakibatkan molekul air yang terserap di permukaan silica gel akan terlepas berupa gas, sehingga pori-pori silica gel tersebut siap digunakan kembali sebagai absorban/penyerap setelah dalam keadaan dingin.

Apakah Silica Gel Berbahaya?

Sahabat tipsunikibu.com, keberadaan silica gel dengan tulisan "Do Not Eat" dalam kemasan makanan tidaklah berimplikasi bahwa bahan ini berbahaya bagi tubuh, karena toksisitas (efek racun) dari silica gel tergolong rendah hingga moderat menurut klasifikasi EPA (badan perlindungan lingkungan Amerika). Tetapi ada satu kondisi tertentu yang menyebabkan silica gel menjadi toksik (menyebabkan efek racun bagi tubuh) sehingga dilarang untuk dimakan. Kita akan membahasnya berikut ini.

Pahami Resiko Silica Gel dalam Kemasan Makanan

Indikator Warna pada Silica Gel



Agar diketahui kapan saat silica gel yang telah jenuh dengan uap air perlu diregenerasi untuk efektivitasnya, maka produsen silica gel terkadang menambahkan senyawa lain yang berfungsi sebagai indikator warna.

Dalam kondisi silica gel tidak menyerap uap air dari udara, zat warna yang ditambahkan ini tidak tampak oleh mata. Saat silica gel menyerap uap air, maka molekul air yang diserap ini akan berikatan dengan senyawa dari zat warna tersebut, sehingga warna silica gel menjadi berubah. Semakin banyak uap air yang terserap, semakin banyak molekul air yang bereaksi dengan zat warna tersebut; maka makin tampak perbedaan warnanya. Sehingga, ketika silica gel tersebut telah jenuh dengan molekul uap air, warnanya kini tak lagi bening serupa kristal kaca; melainkan bisa berwarna biru, pink, atau jingga, tergantung dari jenis senyawa kimia yang ditambahkan sebagai indikator warna.

Zat warna yang ditambahkan pada silica gel sebagai indikator kejenuhan umumnya berupa senyawa inorganik antara logam kobalt (rumus kimia: Co) atau logam tembaga (Cu) dengan unsur halida (misal; Cl atau Br), misalnya CoCI2, CuCI2, CoBr2, atau CuBr2.

Perubahan warna bisa juga terjadi sebaliknya. Silica gel yang telah ditambahkan dengan zat warna tertentu akan berubah menjadi pucat/tidak berwarna ketika makin banyak menyerap uap air. Misalnya, kobalt klorida (CoCI2) memberi warna biru tua pada silica gel; tetapi warna ini akan berubah menjadi merah muda saat silica gel menyerap uap air.

Bagaimana Terjadi Perubahan Warna pada Silica Gel?

Perubahan warna hanya terjadi pada silica gel yang telah ditambahkan  senyawa kimia sebagai indikator kelembaban. Dalam contoh silica gel fang ditambahkan kobalt klorida (CaCl2,) perubahan warna biru menjadi merah muda terjadi melalui mekanisme yang melibatkan ion kompleks. Pada saat silica gel menyerap air, ion kompleks kobalt klorida [Co(Cl4)]2- dalam zat warna tersebut mengalami perubahan koordinasi, sehingga atom Cl digantikan oleh air dan membentuk ion kompleks kobalt hidrat [Co(H2O)6]2+, Senyawa akhir inilah yang menyebabkan warna merah muda.

Risiko Zat Warna pada Silica Gel

Meskipun dalam kadar kecil, indikator kelembapan yang ditambahkan pada silica gel umumnya berupa senyawa inorganik dari golongan logam (dalam contoh di atas adalah logam kobalt dan tembaga), dan karena itu bersifat toksik (beracun). Efek toksin akan lebih besar terhadap anak-anak daripada orang dewasa.

Kobalt klorida (CoCI2) dan tembaga klorida (CuCI2) jika tertelan berpotensi menyebabkan gangguan perut, mual, muntah dan diare; dan jika serbuknya terhirup hidung menyebabkan gangguan pernapasan, batuk-batuk dan napas pendek. Jika putra-putri Anda tak sengaja menelan silica gel, segera beri air minum banyak-banyak, lalu bawa ke dokter. Jika mereka tak sengaja menghirup melalui hidung, beri udara segar, dan segera bawa ke dokter.

Karena efek toksin dari logam-logam zat warna ini, saat ini telah mulai banyak digunakan zat warna yang tidak beracun sebagai indikator kelembapan silica gel, misalnya garam sulfat dari senyawa kompleks besi ammonia.

Yang Sebaiknya Anda Lakukan

Karena kita tidak mengetahui ada/tidaknya zat warna yang ditambahkan pada silica gel, begitu pun kita tidak mengetahui jenis logam apa yang digunakan dalam zat warna sebagai indikator kelembapan, maka opsi terbaik adalah mematuhi instruksi yang tertulis pada label kemasan silica gel untuk tidak memakannya. Selain itu perlu dilakukan langkah-langkah preventif seperti disebutkan dalam tips berikut ini:
  • Jangan membuka kemasan silica gel.
  • Hindarkan silica gel dari jangkauan anak-anak balita
  • Berilah pemahaman kepada anak yang lebih besar tentang risiko silica gel (beserta zat warna yang terkandung di dalamnya) jika masuk ke dalam tubuh.
0 Komentar untuk " Pahami Resiko Silica Gel dalam Kemasan Makanan "


Back To Top